Sunday, November 06, 2005
AIDA ”KREOL”
Cerpen Raudal Tanjung Banua
INI kepulangan yang mendebarkan, setelah lama ia bayangkan bakal menuntaskan
kunjungan ke sebuah kota "yang dibangun dari menara sekaligus terowongan
bawah tanah". Ya, ini akan menjadi kepulangan yang menuntaskan segala
sesak di dada Aida, tentu bukan lantaran ia punya sedikit gejala asma. Meski ia
sendiri, sungguh celaka, tak sanggup merumuskan sesak karena apa. Aneh memang,
tiap kali ia mencari tahu apa yang bergolak dalam batinnya (yang sesungguhnya
tidak menyenangkan), yang muncul justru debar. Seolah ia menunggu sesuatu entah
apa, tapi dengan membayangkannya saja semuanya terasa menyenangkan.
Ah, semoga benarlah semua bakal menyenangkan, ia berharap. Ya, mestinya memang
demikian. Ini kepulangan yang kedua kalau dihitung sejak ia bertunangan dengan
Kudal, laki-laki perantauan yang dicintainya. Serta kepulangan pertama sejak
Aida menikah dan punya seorang anak yang gemar melukis bis. Seharusnya
pernikahan mereka di kampung juga, tapi malaria yang menulari mereka di kapal,
membuat mereka memasang nawaitu, membulatkan tekad untuk segera menikah jika
sembuh --padahal baru saja datang dari kampung yang jauh.
Maka begitu sembuh, jadilah mereka "pengantin malaria", berkah yang
menuntaskan pertunanganan menjadi perkawinan seketika, mengenyahkan sekian
rumus rumit berumah tangga. (Mengapa tak malaria di kampung saja kalau ternyata
membuat kami menikah sekarang juga? Kata Kudal garuk kepala. O, inilah rahasia
jodoh, kata petugas nikah yang arif-bijaksana). Batal menikah di kampung, tak
apa, toh semuanya rampung dengan cepat, di mana mereka sebagai pengantin pun
kaget mendapatkan diri saling pandang di ranjang rumah kontrakan. Sepasang mata
mereka basah. Tapi lalu terbiasa. Termasuk menyiapkan kepulangan kali ini,
sebutlah "membayar hutang" kepulangan yang tertunda --o, mereka pun
arif-bijaksana!
Benarkah pulang dengan persiapan yang matang membuat semuanya terasa
menyenangkan? Aida menduga lagi. Menimbang-nimbang. Di sisinya, anak semata
wayangnya tengah bermimpi, dan suaminya terpejam dalam dengkur yang bebal,
terbenam empuk bangku beludru. Ia menatap suaminya, jatuh iba, betapa laki-laki
itu teramat penat didera beban hidup. Hanya beberapa jam lalu saja mereka
bercakap-cakap di atas taxi bandara, yang membawa mereka ke kantor travel. Dan
ketika pintu minibus dihempaskan, Kudal segera pula menghempaskan tubuh dan
jiwanya ke alam lain -tidur-- dengan berbisik sesempatnya, "Kita tidur
saja, Aida. Kau terutama. Wajahmu tampak lelah sekali." Aida tersenyum,
tadi, lalu ia pun memejamkan mata tapi tidak tidur, tidak bermimpi. Sampai
minibus travel yang membawa mereka entah memasuki jam dan kilometer berapa,
melaju, cepat dan cekatan melewati jalan-jalan sempit di kaki bukit, ia malah
terjaga. Menikmati hijau bukit, dan biru laut di lain sisi. Perihal kendaraan
ini sendiri sesuatu yang menyenangkan, pikirnya. Seingatnya, dulu tak ada
pilihan lain dari kota propinsi ke kampung suaminya, kecuali bis-bis tua yang
sesak. Tapi, benarkah ini membuatnya merasakan rasa senang yang berlebih?
Memang, kepulangan sekarang tidak seperti pulang lima tahun yang lalu di mana
mereka tak punya cukup uang. Meski kepulangan itu penting bagi perkenalan calon
mertua dan menantu. Karenanya, mereka tak peduli biaya perjalanan. Bahkan untuk
ongkos kembali ke Yogya --tempat di mana mereka kuliah-- terpaksa ia menerima
pemberian uang dari saudara-saudara calon suaminya yang jika ia kenang sekarang
sangat tidak menyenangkan.
Sebenarnya Aida enggan menerima waktu itu, dengan menyikut tulang rusuk Kudal
sambil bicara dalam bahasa Bali, satu-satunya bahasa daerah yang mereka kuasai,
itu pun sebatas bahasa pergaulan. Toh, orang-orang itu tidak akan mengerti,
saat ia mengingatkan Kudal bahwa sekadar ongkos bis atau kapal, masih bersisa
sedikit piis yang mereka persiapkan buat jaga-jaga. Tapi Kudal bilang, tidak
apa-apa. Dan menambahkan (dengan bangga!) bahwa suasana yang melebihi seperti
saat itu pernah terjadi ketika ia merantau untuk pertama kali. Dengan dramatis
tergambarkan, bagaimana saudara-saudaranya mengumpulkan uang, sekadar membantu
ongkos Kudal ke rantau tujuan, Bali, tempat yang mempertemukan mereka sebagai
dua sejoli, dan kemudian sama-sama memutuskan studi di Jawa.
Dan untuk kepulangan kali ini, mereka memang menabung cukup baik. Setamat
kuliah, mereka bekerja keras meski hasilnya tentu sulit dikatakan cukup. Apa
yang dianggap cukup, coba, di tengah harga-harga mencekik, kebijaksanaan
pemerintah yang dingin, dan hidup kian kuwalik? Hik! Tapi setidaknya Aida bisa
membawakan oleh-oleh kain batik yang terbaik untuk mertua, paman dan adik-adik
--yang ia kumpulkan dengan cara membeli satu per satu sejak dulu-- kaos Dagadu
Asli, bahkan satu stel surjan dan blangkon Jawa yang dipesan khusus si ponakan,
Amri, waktu ngomong di telpon. Dan semua ini sangat menyenangkan.
***
TAK kalah menyenangkan tentu saja berwisata ke kota lama. Ke sejumlah tempat
yang dulu sempat Aida singgahi dengan berkendara motor tua bersama laki-laki
yang dicintainya. Tapi kunjungan itu sungguh tidak sempurna, serba kilat, sebab
minimnya biaya perjalanan. Padahal, ia ingin sepuasnya menikmati Jam Gadang
yang menjulang kokoh dan kuno, masuk Lobang Japang dan memandang ngarai yang
biru.
Menyesal karena mesti bergegas waktu itu, memacu motor tua yang dipinjam dari
Paman Markis. Tapi soalnya adalah, semalam-malam hari mereka mesti sampai di
Payakumbuh, agar dapat menginap di rumah sahabat lama Kudal, dengan dua
pertimbangan --tanpa pilihan: tak ada biaya penginapan, dan mereka belum lagi
sepasang suami-istri. Kata Kudal, laki-perempuan yang hendak menginap di hotel
mesti menunjukkan surat nikah jika tak ingin ditolak atau tidur terpisah.
Ya, ya, Aida mengangguk mahfum. Maklum daerah para buya dan ulama, dulu,
bisiknya. Meski kemudian Aida merasa tertipu ketika sahabat lama Kudal di
Payakumbuh yang blak-blakan itu, dengan enteng bercerita bahwa pemeriksaan
surat nikah bagi tamu menginap hanya omong kosong, setidaknya tinggal cerita.
"Buktinya, kalau saya ke Padang sama si Nora (yang kemudian menjadi
istrinya), pasti menginap di losmen dekat Muara," katanya. Terkekeh.
Laki-laki perokok itu pula yang merekomendasikan tempat menginap murah-meriah
untuk mereka, lancar dan hapal di luar kepala, seolah mereka akan menginap pada
saat itu juga. "Buat jaga-jaga, kalau kalian pulang lagi," katanya
menyadari. Dan Kudal menjawab mantap, "Pulang besok, kami sudah jadi
suami-istri, Bung!" Sahabat baik itu terbahak. Sementara Aida menyesal tak
bisa menyusuri kota itu, sebagaimana ia membayangkan dirinya sebagai seorang
gadis dengan kisahnya yang manis!
Dulu, itu berlebihan, bisiknya. Tapi sekarang pun, sebenarnya Aida tetap
merasakan demikian. Apa yang istimewa dari sebuah kota wisata dan seorang
gadis? Bukankah sebagai gadis Bali sebenarnya ia tak asing dengan pariwisata,
dan dalam sejumlah hal bahkan terasa membosankan? Kalau mau jujur, ia justru
sangat terkesan dan takjub dengan daerah suaminya, sebuah kabupaten yang
memanjang di pantai barat Sumatera, terpencil, mungkin terkucil, hanya
dihubungkan satu jalan utama, dan dengan itu keberadaannya seperti malu-malu
muncul di peta Ranah Minang. Jika ada jalan yang longsor atau jembatan putus,
putus pula hubungannya dengan dunia luar. Menghadap keluasan Samudera Hindia,
dan diapit deretan Bukit Barisan, pemandangan bagai mencipta kegaiban.
"Daerah pantai yang tak punya pelabuhan, daerah pebukitan yang hanya punya
satu jalan," begitu suaminya pernah bilang, dan Aida rasakan nada
keterhimpitan di situ, rasa disisihkan.
"Semestinya kau yang jadi bupati," Aida pernah menggoda. "Tidak.
Anak kita yang nanti jadi gubernur," jawab Kudal, nadanya sukar diduga.
Mereka tergelak, dan bagi yang mendengar, susah juga menduga maunya.
Bagaimanapun, Aida tak bisa melepaskan pautan hatinya pada alam daerah ini yang
masih terjaga, penuh pesona. Ya, Aida telah jatuh cinta sejak pandangan
pertama, melebihi apa pun yang dikatakan kamus wisata. Ini hanya mungkin
dibandingkan dengan perjumpaan pertamanya dengan Kudal di rumah panggung Nenek
Syaodah di kampungnya --yang juga ia kenang dengan nada ketersisihan.
Lalu di atas semua itu, seorang gadis, apa yang istimewa? Apa artinya?
Ia mencoba berkelit. Beruntung, di saat yang sama ia tiba-tiba ingat nasi kapau
dan sate piaman, yang entah bagaimana cocok belaka dengan lidahnya. Tentu,
karena ia dari keluarga "kreol", ibu Jawa, ayahnya campuran Bugis,
Makasar, dan Madura. Ia sendiri seharusnya asli seorang Bali, karena lahir dan
besar di pulau itu, di sebuah kampung tua yang sudah ada sejak berabad-abad
silam. Namun selalu ada yang tak ia mengerti, sesuatu yang membuatnya sukar
merumuskan diri sebagai seseorang yang "asli". Dari segi bahasa misalnya.
Ia tidak fasih berbahasa Bali, karena kampungnya berbahasa Melayu dengan dialek
yang kental, serupa lidah Malaysia. Rumah-rumah di kampungnya tak
berbale-bengong, tak bersanggah, seperti rumah Bali, tapi rumah panggung
bertiang tinggi. Tidak ada pura tentu saja, tapi menara masjid yang tua.
Aida tahu, semua itu tak mungkin membuatnya tertolak sebagai orang Bali, karena
kampungnya sendiri sudah menjadi bagian dari sejarah tanah dewata. Tapi secara
pribadi, tentu saja ia memiliki pengalaman-pengalaman tertentu yang membuatnya
canggung, susah-payah merumuskan jatidiri. Ia pun tahu, pengalaman personal itu
sangat subjektif sifatnya, semisal kemiskinan keluarga yang membuatnya tidak
percaya diri, tapi ia tak bisa pula melepaskannya dari pengalaman bersama.
Maklum, kemiskinan mendera sebagian besar keluarga di kampungnya, dengan jalan
raya yang dibiarkan rusak dan lapangan kerja yang sulit, pendidikan anak-anak
yang terbengkalai, padahal letaknya hanya berapa ratus meter dari pasar induk
kabupaten.
Bertahun-tahun kampungnya dikenal sebagai kampung udik, dan anak-anaknya yang
sedikit bersekolah itu sering diejek, jika tidak malu sendiri. Ada yang mencoba
menyembunyikan diri sedemikian rupa agar tidak kentara sebagai "anak
kampung", tapi tetap saja mereka berbeda dengan "anak kota",
setidaknya penampilan yang kusam. Dan hal dasar yang tak bisa disembunyikan
adalah bahasa ucap mereka. Ya, bahasa Melayu yang kental. Meskipun bahasa
mereka telah menyerap kosa kata dari berbagai bangsa (bukan suku-bangsa!)
seperti Bali, Jawa, Madura dan seterusnya, tetap saja mereka melafalkan vokal
"a" sebagai "e", pada setiap akhir kata.
Inikah yang membuatku terobsesi pada kota itu, dan ingin menjadi gadis lain?
Aida bertanya pada dirinya, dan mulai menyusuri kenangannya sendiri….
***
DALAM komunitas kampungnya yang "udik", Aida tumbuh sebagai gadis
pemalu, sedikit gagap dan tidak percaya diri. Meski diterima di sekolah
unggulan, yang ia rasakan lebih banyak siksaan.
Ia kerap iri melihat kawan-kawannya punya sepeda, atau paling tidak
lancar-lancar saja naik angkutan kota. Sedang ia, jangankan punya sepeda, naik
angkot pun tak selamanya bisa. Uang dari bapaknya pas untuk satu keperluan,
padahal Aida membutuhkan sedikitnya dua keperluan setiap hari: ongkos angkot
dan jajan. Maka, kalau ia mau jajan, ia mesti berjalan kaki, atau sebaliknya.
Kerap pula ia tak bisa memilih karena tak setiap hari bapaknya punya uang.
Seringlah ia berjalan kaki, lewat jalan pintas menempuh pematang sawah, masuk
gang-gang sepi, dan tak jarang ia dikejar anjing atau diganggu orang, apalah
bedanya.
Ia kemudian belajar mencari uang sendiri dengan membungkus kerupuk di sebuah
usaha kecil tetangga, yang jika ia kenang sekarang sungguh keterlaluan.
Bayangkan, untuk berbungkus-bungkus kerupuk, bayarannya tak cukup buat jajan.
Belum lagi kalau ia ingat saat-saat belajar mengaji, yang menyita banyak waktu
dan tenaganya sebab harus mengabdi sepenuhnya kepada sang guru, tak bisa
menolak karena bapaknya keras dalam urusan agama. Ini tak kalah menyiksa.
Seharusnya ia bisa lebih percaya diri, kalau saja guru sekolah memperhatikan
bakatnya. Aida merasa bisa menulis puisi dan mengarang cerita. Tapi dirinya
luput setiap kali ada lomba. Ini menjadi masa sulit bagi Aida. Termasuk ketika
ia menyukai teman lelaki, Ida Bagus Suemi. Aida pun percaya, lewat sorot mata
dan tingkahnya, anak itu juga menyukainya. Tapi keduanya tak menyatakan apa
pun. Satu-satunya komunikasi yang diingat Aida ialah ketika mereka naik angkot
yang sama ke sekolah, dan Bagus Suemi membayarkan ongkosnya, tapi Aida menolak.
Lalu, ketika mereka mulai melangkah, Bagus Suemi menginjak sepatu Aida, dan tak
dinyana remaja itu membungkuk membersihkannya. "Aduh, maaf, ya, saya ndak
sengaja," katanya kikuk. Yang lebih kikuk tentu saja Aida, sebab sepatu
yang ia kenakan tidak lebih sepatu butut yang mulai robek di sana-sini, yang
jika ia kenang kapan saja, niscaya wajahnya akan sama merahnya seperti saat
itu!
Kenyataan-kenyataan ini, menghilangkan separoh masa remajanya…..
Tapi aneh! Masa-masa yang hilang itu serasa Aida temukan dalam masa lalu
suaminya. Salah satunya, tentang kota lama itu, Bukittinggi, yang digambarkan
Kudal sebagai "Kota yang dibangun dari menara sekaligus terowongan bawah
tanah," lantaran di sana kisah-kasihnya dengan seorang gadis bermula, meski
bertahun-tahun kemudian, di sana juga mereka berpisah! Rosalina, Rosalina
Parete, gadis bahagia sekaligus malang itulah, yang terus membayangi Aida…
Entah kenapa Aida sangat tertarik pada kisah kasih sederhana itu, barangkali ia
membayangkan dirinya sendiri terlibat di dalamnya. Sering Aida menanyakan
mengapa Kudal meninggalkan gadis itu, namun Kudal tak pernah sungguh-sungguh
menjawab. "Bukan aku yang meninggalkannya, dialah yang meninggalkan
aku," katanya. Padahal Aida tahu, tak lama setelah Kudal sampai di Bali,
surat si gadis datang tak putus. Aidalah yang mengumpulkan dan menyimpan
surat-surat itu. Hanya beberapa saja dibalas Kudal, tentu dengan menyebut nama
Aida sebagai perempuan yang telah mengisi hidupnya. Aneh, Aida malah balik
sedih kepada gadis itu.
Tapi, tiap kali Aida bertanya kenapa Kudal tega meninggalkan si gadis, Kudal
malah menceritakan yang lain, yang konyol. "Sore itu kami berdiri di atas
tebing Ngarai Sianok, dengan tangan tak lagi saling genggam karena semua sudah
kami tuntaskan. Kemudian aku berjalan ke semak-semak, lebih dekat lagi ke
jurang, dan secepat itu pula ia mengejarku, nyaris berteriak minta tolong.
Tentu saja ia takut menyaksikan aku bunuh diri, meloncati tebing dan remuk di
dasar jurang. Tapi siapa yang mau bunuh diri? Wong, aku hanya mau kencing
kok!" Ia lalu akan tertawa, membuat Aida kian penasaran saja, dengan suatu
bisikan halus dalam hati, "Huh, mentang-mentang punya banyak masa lalu
untuk dikenang, lalu dibuang-buang.…"
Lantas, pikirnya, "Tapi perlukah aku memungutnya?"
***
AIDA meluruskan kaki, menekan debar, dan bertanya sendiri, letih: Apa iya masa
lalu seseorang bisa dimasuki seorang lain, sekalipun itu orang yang dicintai?
Dengan latar budaya hibrida dan kreol, yang terbiasa merangkai segala yang
silam, mungkin saja Aida bisa. Tapi….untuk apa?…perlukah? Tidak, tidak, aku
harus merumuskan masa laluku sendiri! Cukup bagiku meminang lelakiku, tak perlu
masa lalunya!
Ajaib, begitu memasuki kampung suaminya, yang tenang dan sunyi, Aida merasakan
sesuatu memapah dirinya pada kesadaran murni. Ia mendengar suara ombak berdesir
di pantai. Ia melihat cakrawala. Melihat matahari. Dengan desir yang aneh,
semua ini mengingatkannya pada silsilah, garis darah, bahasa, peta-peta, dan
sejarah leluhurnya di sebuah kampung tua yang menyimpan masa lalunya. Sempurna
atau retak, itulah milikku! Bisiknya, seperti luluh.
Minibus jalan perlahan, bagai kapal hendak menepi. "Kalau pun besok atau
lusa aku ke kota lama, mungkin bukan untuk mengingat siapa-siapa," ia
berbisik di dalam hati, lalu membangunkan anak dan suaminya. Sebab mereka telah
sampai.
/Yogyakarta, Bulan Bahasa, Oktober 2005