Minggu, 14 Desember 2014

Tidak ada komentar:

I don’t know why I keep on loving you despite the fact that I’ll get hurt again just like before. I never learn cause I don’t want to. Not now when I’m still strong to fall for you over and over again.

If someone would ask me what a beautiful life means, I would lean my head on your shoulder, hold you close to me and answer with a smile, “Like this.”

There’s a love that only you can give, a smile that only your lips can show, a twinkle that can only be seen in your eyes and my life that only you can complete.

#trik_pojok { position:fixed;bottom:0px; right:0px;
Tidak ada komentar:

Kata Kata Kangen Ibu

Ibu
Aku rindu
Aku rindu pelukmu
Aku rindu belaian kasihmu
Aku rindu senyummu
Aku rindu tawa candamu
Ibu
Hanya lewat suaralah aku curahkan kerinduanku
Hanya lewat tuliasanlah aku tumpahkan kerinduanku
kukatakan “ibu akau rindu”

Ibu
doakanlah aku disini
Aku yang menuntut ilmu untuk masa depan cerah
Secerah hatimu
Ibu
Aku yang selalu ingin memberi senyum dihidup ibu
Aku inginkan tawa ibu selalu
Aku yang tak akan membiarkan air mata kepedihan mengalir dari mata bening ibu

Ibu
I miss you
I love you

“Ibu, inilah Aku yang selalu ingin memberi senyum dihidup ibu”
Tidak ada komentar:


Kata Kata Kangen Pacar

Waktu berjalan begitu lambat ketika kita merindukan seseorang yang kita cintai.

Rindu Ketika Hujan
Disudut kota itu
Terlihat keramaian menyusur jalanan
Suara desing disana sini terus berpacu
Seperti di kejar-kejar oleh waktu

Langit mendung berawan
Terasa dingin hati ini
Hujan akan turun membasahi rindu dihati
Ku pandang langit saksikan kesedihan

Tetes air hujan berdesak turun
Sepi mengusir keramaian
Hanya terdengar suara rintik-rintik hujan
Dan suara hati mencari hangatnya kerinduan

Angin menyelimuti hati yang hampa
Dan tak seorang pun yang tau
Betapa merindunya cinta
ku
Untuk temani cinta
mu
Wavy Tail

Selasa, 02 September 2014

Tidak ada komentar:


  SABDA
 Mukjizat, Pengertian Sebenarnya
 
Oleh Eka Darmaputera

Masih ingatkah Anda akan nama Lee Strobel? Mungkin tidak. Ia adalah wartawan sebuah harian terkemuka Chicago Tribune. Pernah saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan saya yang lalu.
Waktu itu saya menulis, betapa didorong oleh naluri kewartawanannya serta digelitik oleh panggilan imannya, Strobel merasa penasaran oleh pernyataan-pernyataan Charles Templeton, eks penginjil rekan sejawat Billly Graham, yang telah ingkar dari imannya. Maka terbanglah ia ke Boston untuk mewawancarai Peter Kreeft, profesor filsafat dari Boston College, guna memperoleh pandangan yang seimbang. (cf. Lee Strobel, ”THE CASE FOR FAITH”. Zondervan, 2000).
Kali ini ia kembali dibuat geregetan oleh pernyataan beberapa ilmuwan. Di antaranya oleh pernyataan fisikawan terkenal, Max Plank, yang dengan yakinnya mengatakan bahwa kepercayaan pada ”mukjizat” pada satu ketika pasti akan menyerah, gulung tikar, dan dipaksa menyerahkan wilayah garapannya kepada ilmu pengetahuan.
Dengan perkataan lain, menurut Plank, kepercayaan pada ”mukjizat” sekarang ini secara pasti sedang memudar dan meredup, untuk akhirnya padam sama sekali. Sebaliknya, cahaya ilmu pengetahuan kian ”mencorong”, dan akan menjadi penerang satu-satunya bagi segala sesuatu.
Pendapat ini didukung penuh oleh biologiwan Richard Dawkins yang meramalkan, bahwa pada suatu ketika nanti ilmu pengetahuan akan mampu menyibak semua—atau sebagian terbesar—rahasia alam semesta. Dan ketika ini terjadi, sebagai konsekuensinya, manusia bakal tidak memerlukan lagi penjelasan-penjelasan yang nonilmiah. Misalnya, ya itu, kepercayaan akan ”mukjizat”. Sebab, katanya, apa yang sekarang disebut ”mukjizat”, sebenarnya sama sekali bukanlah ”mukjizat”. Tapi disebut demikian, hanya karena manusia belum mampu menjelaskannya secara ilmiah.

PANDANGAN ”provokatif” tersebut, kita tahu, dianut banyak ilmuwan lain. Kenyataan inilah yang mendorong Lee Strobel terbang dari Chicago ke Atlanta, untuk mewancarai William Lane Craig. Siapa William Craig ini? Ia adalah profesor teologi yang diakui luas otoritas, rasionalitas, dan intelektualitasnya. Dan menjadi terkenal terutama karena buku-bukunya yang secara rasional dianggap ”berhasil” mempertahankan validitas ”iman” dan ”mukjizat” di tengah gugatan gencar orang-orang modern.
Begitu berjumpa, Strobel segera ”tembak-langsung”. Pertanyaannya yang pertama adalah, apakah komentar Craig tentang pernyataan Plank dan Dawkins, bahwa orang moderen tidak layak dan tidak pantas mempercayai lagi adanya ”mukjizat”.
Jawaban yang ia terima membuatnya terperangah. ”Menurut pendapat saya ,” kata Craig, ”mereka benar”. Setengah tak percaya akan telinganya semdiri, Strobel meminta ketegasan, ”Maaf, apa kata Anda barusan?”.
”Saya berkata bahwa Plank dan Dawkins benar. Sebab yang terjadi adalah beberapa orang telah mengeksploitasi istilah ‘mukjizat’ secara murahan. Mereka jadikan itu sebagai dalih untuk menutupi kecekakan serta kekurangpengetahuan mereka. Lalu mereka juga dengan gampangnya melempar tanggung jawab kepada ‘Allah’, setiap kali mereka tidak mampu menjelaskan sesuatu. Bahwa ini sudah ketetapan Allah-lah. Atau bahwa ini adalah tindakan Allah-lah. Jadi ya terima saja, dan jangan banyak bertanya. Itu sebabnya saya katakan, adalah perkembangan yang baik dan sehat, bila ilmu pengetahuan terus berkembang serta menyingkirkan cara-cara berpikir yang naif, cupet dan simplistik seperti itu”

TAPI ini sama sekali tidak berarti bahwa Craig ikut-ikutan tidak mempercayai ”mukjizat”. Baginya, ”mukjizat” itu nyata.. ”Mukjizat” itu ada. ”Hanya saja,” begitu ia berkata, ”yang saya maksud dengan ‘mukjizat’ bukan itu. Bagi saya, ‘mukjizat’ merujuk pada peristiwa-peristiwa di mana secara sah kita dapat memastikan, bahwa ada kekuatan-kekuatan non-manusiawi yang ikut campur dalam prosesnya. Singkatnya, ‘mukjizat’ adalah yang sepenuhnya dan sesungguhnya merupakan tindakan Allah. ‘Mukjizat’ dalam pengertian ini tidak akan pernah terdesak atau terdepak oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Ia tidak didasarkan pada kekurangpengetahuan manusia. Ia tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan dikuatkan oleh bukti-bukti sejarah”.
Saya 100 persen menyetujui pendapat Craig. Menurut saya, paling sedikit ada tiga hal penting dari apa yang ia kemukakan. Pertama, janganlah kita secara gampangan murahan memakai kata ”mukjizat”. Sedikit-sedikit ”mukjizat”. Agak aneh sedikit, ”mukjizat” Berhasil menagih utang lama, disebut ”mukjizat”. Lolos dari kecelakaan, disebut ”mukjizat”. Memperoleh promosi, disebut ”mukjizat”. Dan seterusnya.
Tentu saja tidak salah untuk mengakui bahwa anugerah dan kasih Tuhan ada di balik semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Tapi serta-merta menyebutnya sebagai ”mukjizat”? O, tunggu dulu!

SAYA khawatir dengan berbuat itu kita tanpa sadar telah ”menyeret” Tuhan dalam perkara-perkara remeh-temeh. Ini jelas bukan tindakan yang memuliakan Allah. Terlebih-lebih tatkala yang terjadi adalah, bahwa sekali pun kemahakuasaan-Nya kita sebut-sebut, namun kita tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Melainkan sebagai ”pelayan” dan ”pelaksana” keinginan kita. Ia menagih utang kita. Ia menyembuhkan penyakit kita. Bagaikan satpam Ia mengawal kita. Dan seterusnya.
Bagaimana sekiranya yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita itu tidak sesuai dengan keinginan kita? Apakah kita masih menyebutnya sebagai ”mukjizat”? Kemungkinan besar, tidak. Kalau begitu, dalam apa yang kita sebut ”mukjizat” itu, keinginan dan kehendak manusia-lah yang dominan. Padahal yang benar adalah, seperti dikatakan oleh Craig, ”mukjizat” sepenuhnya merupakan ekspresi dari kedaulatan, kemaha-kuasaan dan kebebasan Allah. Terlepas dari apakah itu kita sukai atau tidak.
Sebab itu, nasihat saya, jangan asal ”aneh” kita menyebutnya sebagai ”mukjizat”. Tuhan kita bukanlah ”tukang sulap” agung. Ia adalah Allah, khalik dan pencipta segala sesuatu. Berhati-hatilah! Dukun-dukun Firaun – seperti Musa – juga dapat mengubah tongkat mereka menjadi ular (Keluaran 7::10-12). Dan David Copperfield bisa melakukan hal-hal yang lebih ”ajaib” dari yang dilakukan penginjil-penginjil itu.

HAL kedua yang dikatakan Craig adalah, bahwa ”mukjizat” itu ada serta nyata, dan tidak berlawanan dengan intelektualitas atau rasionalitas kita. Ya! Bahkan saya ingin menegaskan, bahwa justru pandangan yang sebaliknya itulah yang tidak mencerminkan integritas intelektuali serta rasionalitas yang bersangkutan!
Orang-orang tersebut selalu mengklaim, bahwa mereka menjunjung tinggi kenyataan dan kebenaran. Tapi mengapa sikap mereka berubah, ketika kenyataan dan kebenaran menunjukkan bahwa ada hal-hal yang memang benar-benar berada di luar jangkauan kemampuan manusia? Yang semata-mata adalah tindakan Allah?
Siapa mengatakan bahwa ”kehidupan” adalah hasil tindakan manusia? Ilmuwan mana dapat menjelaskan ”keberadaan” sesuatu, termasuk diri mereka sendiri? Bukankah yang paling banter dapat mereka katakan adalah, ”Saya tidak tahu, tapi rasa-rasanya saya ”tiba-tiba” ada begitu saja”? Alkitab mengatakan, itulah ”mukjizat” itu. Kita ”hidup”, kita ”berada”, semata-mata karena tindakan Allah – sepenuhnya! Bahkan bukan pula karena bantuan ”doa” pendeta siapa pun!

BAGI orang kristen, kepercayaan akan ”mukjizat” itu penting. Sebab bila kepercayaan ini ambruk, maka seluruh bangunan iman kristiani pun akan ambruk pula. Bagi umat manusia – kristen atau tidak – kepercayaan akan ”mukjizat” juga penting. Sebab bila orang tidak mempercayainya, lalu cuma mau bergantung pada kemampuan manusiawinya, inilah yang disebut oleh Paulus sebagai ”orang yang paling malang” (1 Korintus 15:19). Percaya akan ”mukjizat” berarti percaya, bahwa kita masih punya sumber pengharapan lain di luar daya serta kemampuan manusiawi kita. Bahwa selalu ada ”kemungkinan” dan ”jalan keluar”.
Namun demikian, betapa pun penting, menurut alkitab, ”mukjizat” bukanlah satu-satunya yang penting. Malah bukan pula yang terpenting. Alkitab selalu konsisten dengan prinsip, bahwa ada yang lebih penting dari apa yang diperbuat Allah. Dan itu adalah diri serta pribadi Allah sendiri! Orang-orang kristen yang terlalu menekankan mukjizat ”jatuh” dalam ”bahaya” itu. Mereka datang, karena apa yang dilakukan Allah. Bukan karena ”Allah” adalah ”Allah”.
Itu sebabnya Yesus dengan tegas menolak orang yang bersedia percaya kepada-Nya, dengan syarat Ia melakukan ”mujizat” terlebih dahulu. No way! ”Mukjizat” tidak boleh menjadi alasan dan landasan iman. Allah bukanlah ”David Copperfield” skala besar, melainkan pencipta dan pemilik kita semua. Yang layak kita sembah, bukan karena Ia mengikuti kehendak kita, tapi karena Ia adalah Allah. Menyenangkan atau tidak menyenangkan.
 






Copyright © Sinar Harapan 2003



Senin, 01 September 2014

Tidak ada komentar:


Sunday, November 06, 2005

AIDA ”KREOL”

Cerpen Raudal Tanjung Banua

INI kepulangan yang mendebarkan, setelah lama ia bayangkan bakal menuntaskan kunjungan ke sebuah kota "yang dibangun dari menara sekaligus terowongan bawah tanah". Ya, ini akan menjadi kepulangan yang menuntaskan segala sesak di dada Aida, tentu bukan lantaran ia punya sedikit gejala asma. Meski ia sendiri, sungguh celaka, tak sanggup merumuskan sesak karena apa. Aneh memang, tiap kali ia mencari tahu apa yang bergolak dalam batinnya (yang sesungguhnya tidak menyenangkan), yang muncul justru debar. Seolah ia menunggu sesuatu entah apa, tapi dengan membayangkannya saja semuanya terasa menyenangkan.
Ah, semoga benarlah semua bakal menyenangkan, ia berharap. Ya, mestinya memang demikian. Ini kepulangan yang kedua kalau dihitung sejak ia bertunangan dengan Kudal, laki-laki perantauan yang dicintainya. Serta kepulangan pertama sejak Aida menikah dan punya seorang anak yang gemar melukis bis. Seharusnya pernikahan mereka di kampung juga, tapi malaria yang menulari mereka di kapal, membuat mereka memasang nawaitu, membulatkan tekad untuk segera menikah jika sembuh --padahal baru saja datang dari kampung yang jauh.
Maka begitu sembuh, jadilah mereka "pengantin malaria", berkah yang menuntaskan pertunanganan menjadi perkawinan seketika, mengenyahkan sekian rumus rumit berumah tangga. (Mengapa tak malaria di kampung saja kalau ternyata membuat kami menikah sekarang juga? Kata Kudal garuk kepala. O, inilah rahasia jodoh, kata petugas nikah yang arif-bijaksana). Batal menikah di kampung, tak apa, toh semuanya rampung dengan cepat, di mana mereka sebagai pengantin pun kaget mendapatkan diri saling pandang di ranjang rumah kontrakan. Sepasang mata mereka basah. Tapi lalu terbiasa. Termasuk menyiapkan kepulangan kali ini, sebutlah "membayar hutang" kepulangan yang tertunda --o, mereka pun arif-bijaksana!
Benarkah pulang dengan persiapan yang matang membuat semuanya terasa menyenangkan? Aida menduga lagi. Menimbang-nimbang. Di sisinya, anak semata wayangnya tengah bermimpi, dan suaminya terpejam dalam dengkur yang bebal, terbenam empuk bangku beludru. Ia menatap suaminya, jatuh iba, betapa laki-laki itu teramat penat didera beban hidup. Hanya beberapa jam lalu saja mereka bercakap-cakap di atas taxi bandara, yang membawa mereka ke kantor travel. Dan ketika pintu minibus dihempaskan, Kudal segera pula menghempaskan tubuh dan jiwanya ke alam lain -tidur-- dengan berbisik sesempatnya, "Kita tidur saja, Aida. Kau terutama. Wajahmu tampak lelah sekali." Aida tersenyum, tadi, lalu ia pun memejamkan mata tapi tidak tidur, tidak bermimpi. Sampai minibus travel yang membawa mereka entah memasuki jam dan kilometer berapa, melaju, cepat dan cekatan melewati jalan-jalan sempit di kaki bukit, ia malah terjaga. Menikmati hijau bukit, dan biru laut di lain sisi. Perihal kendaraan ini sendiri sesuatu yang menyenangkan, pikirnya. Seingatnya, dulu tak ada pilihan lain dari kota propinsi ke kampung suaminya, kecuali bis-bis tua yang sesak. Tapi, benarkah ini membuatnya merasakan rasa senang yang berlebih?
Memang, kepulangan sekarang tidak seperti pulang lima tahun yang lalu di mana mereka tak punya cukup uang. Meski kepulangan itu penting bagi perkenalan calon mertua dan menantu. Karenanya, mereka tak peduli biaya perjalanan. Bahkan untuk ongkos kembali ke Yogya --tempat di mana mereka kuliah-- terpaksa ia menerima pemberian uang dari saudara-saudara calon suaminya yang jika ia kenang sekarang sangat tidak menyenangkan.
Sebenarnya Aida enggan menerima waktu itu, dengan menyikut tulang rusuk Kudal sambil bicara dalam bahasa Bali, satu-satunya bahasa daerah yang mereka kuasai, itu pun sebatas bahasa pergaulan. Toh, orang-orang itu tidak akan mengerti, saat ia mengingatkan Kudal bahwa sekadar ongkos bis atau kapal, masih bersisa sedikit piis yang mereka persiapkan buat jaga-jaga. Tapi Kudal bilang, tidak apa-apa. Dan menambahkan (dengan bangga!) bahwa suasana yang melebihi seperti saat itu pernah terjadi ketika ia merantau untuk pertama kali. Dengan dramatis tergambarkan, bagaimana saudara-saudaranya mengumpulkan uang, sekadar membantu ongkos Kudal ke rantau tujuan, Bali, tempat yang mempertemukan mereka sebagai dua sejoli, dan kemudian sama-sama memutuskan studi di Jawa.
Dan untuk kepulangan kali ini, mereka memang menabung cukup baik. Setamat kuliah, mereka bekerja keras meski hasilnya tentu sulit dikatakan cukup. Apa yang dianggap cukup, coba, di tengah harga-harga mencekik, kebijaksanaan pemerintah yang dingin, dan hidup kian kuwalik? Hik! Tapi setidaknya Aida bisa membawakan oleh-oleh kain batik yang terbaik untuk mertua, paman dan adik-adik --yang ia kumpulkan dengan cara membeli satu per satu sejak dulu-- kaos Dagadu Asli, bahkan satu stel surjan dan blangkon Jawa yang dipesan khusus si ponakan, Amri, waktu ngomong di telpon. Dan semua ini sangat menyenangkan.
***
TAK kalah menyenangkan tentu saja berwisata ke kota lama. Ke sejumlah tempat yang dulu sempat Aida singgahi dengan berkendara motor tua bersama laki-laki yang dicintainya. Tapi kunjungan itu sungguh tidak sempurna, serba kilat, sebab minimnya biaya perjalanan. Padahal, ia ingin sepuasnya menikmati Jam Gadang yang menjulang kokoh dan kuno, masuk Lobang Japang dan memandang ngarai yang biru.
Menyesal karena mesti bergegas waktu itu, memacu motor tua yang dipinjam dari Paman Markis. Tapi soalnya adalah, semalam-malam hari mereka mesti sampai di Payakumbuh, agar dapat menginap di rumah sahabat lama Kudal, dengan dua pertimbangan --tanpa pilihan: tak ada biaya penginapan, dan mereka belum lagi sepasang suami-istri. Kata Kudal, laki-perempuan yang hendak menginap di hotel mesti menunjukkan surat nikah jika tak ingin ditolak atau tidur terpisah.
Ya, ya, Aida mengangguk mahfum. Maklum daerah para buya dan ulama, dulu, bisiknya. Meski kemudian Aida merasa tertipu ketika sahabat lama Kudal di Payakumbuh yang blak-blakan itu, dengan enteng bercerita bahwa pemeriksaan surat nikah bagi tamu menginap hanya omong kosong, setidaknya tinggal cerita. "Buktinya, kalau saya ke Padang sama si Nora (yang kemudian menjadi istrinya), pasti menginap di losmen dekat Muara," katanya. Terkekeh.
Laki-laki perokok itu pula yang merekomendasikan tempat menginap murah-meriah untuk mereka, lancar dan hapal di luar kepala, seolah mereka akan menginap pada saat itu juga. "Buat jaga-jaga, kalau kalian pulang lagi," katanya menyadari. Dan Kudal menjawab mantap, "Pulang besok, kami sudah jadi suami-istri, Bung!" Sahabat baik itu terbahak. Sementara Aida menyesal tak bisa menyusuri kota itu, sebagaimana ia membayangkan dirinya sebagai seorang gadis dengan kisahnya yang manis!
Dulu, itu berlebihan, bisiknya. Tapi sekarang pun, sebenarnya Aida tetap merasakan demikian. Apa yang istimewa dari sebuah kota wisata dan seorang gadis? Bukankah sebagai gadis Bali sebenarnya ia tak asing dengan pariwisata, dan dalam sejumlah hal bahkan terasa membosankan? Kalau mau jujur, ia justru sangat terkesan dan takjub dengan daerah suaminya, sebuah kabupaten yang memanjang di pantai barat Sumatera, terpencil, mungkin terkucil, hanya dihubungkan satu jalan utama, dan dengan itu keberadaannya seperti malu-malu muncul di peta Ranah Minang. Jika ada jalan yang longsor atau jembatan putus, putus pula hubungannya dengan dunia luar. Menghadap keluasan Samudera Hindia, dan diapit deretan Bukit Barisan, pemandangan bagai mencipta kegaiban. "Daerah pantai yang tak punya pelabuhan, daerah pebukitan yang hanya punya satu jalan," begitu suaminya pernah bilang, dan Aida rasakan nada keterhimpitan di situ, rasa disisihkan.
"Semestinya kau yang jadi bupati," Aida pernah menggoda. "Tidak. Anak kita yang nanti jadi gubernur," jawab Kudal, nadanya sukar diduga. Mereka tergelak, dan bagi yang mendengar, susah juga menduga maunya. Bagaimanapun, Aida tak bisa melepaskan pautan hatinya pada alam daerah ini yang masih terjaga, penuh pesona. Ya, Aida telah jatuh cinta sejak pandangan pertama, melebihi apa pun yang dikatakan kamus wisata. Ini hanya mungkin dibandingkan dengan perjumpaan pertamanya dengan Kudal di rumah panggung Nenek Syaodah di kampungnya --yang juga ia kenang dengan nada ketersisihan.
Lalu di atas semua itu, seorang gadis, apa yang istimewa? Apa artinya?
Ia mencoba berkelit. Beruntung, di saat yang sama ia tiba-tiba ingat nasi kapau dan sate piaman, yang entah bagaimana cocok belaka dengan lidahnya. Tentu, karena ia dari keluarga "kreol", ibu Jawa, ayahnya campuran Bugis, Makasar, dan Madura. Ia sendiri seharusnya asli seorang Bali, karena lahir dan besar di pulau itu, di sebuah kampung tua yang sudah ada sejak berabad-abad silam. Namun selalu ada yang tak ia mengerti, sesuatu yang membuatnya sukar merumuskan diri sebagai seseorang yang "asli". Dari segi bahasa misalnya. Ia tidak fasih berbahasa Bali, karena kampungnya berbahasa Melayu dengan dialek yang kental, serupa lidah Malaysia. Rumah-rumah di kampungnya tak berbale-bengong, tak bersanggah, seperti rumah Bali, tapi rumah panggung bertiang tinggi. Tidak ada pura tentu saja, tapi menara masjid yang tua.
Aida tahu, semua itu tak mungkin membuatnya tertolak sebagai orang Bali, karena kampungnya sendiri sudah menjadi bagian dari sejarah tanah dewata. Tapi secara pribadi, tentu saja ia memiliki pengalaman-pengalaman tertentu yang membuatnya canggung, susah-payah merumuskan jatidiri. Ia pun tahu, pengalaman personal itu sangat subjektif sifatnya, semisal kemiskinan keluarga yang membuatnya tidak percaya diri, tapi ia tak bisa pula melepaskannya dari pengalaman bersama. Maklum, kemiskinan mendera sebagian besar keluarga di kampungnya, dengan jalan raya yang dibiarkan rusak dan lapangan kerja yang sulit, pendidikan anak-anak yang terbengkalai, padahal letaknya hanya berapa ratus meter dari pasar induk kabupaten.
Bertahun-tahun kampungnya dikenal sebagai kampung udik, dan anak-anaknya yang sedikit bersekolah itu sering diejek, jika tidak malu sendiri. Ada yang mencoba menyembunyikan diri sedemikian rupa agar tidak kentara sebagai "anak kampung", tapi tetap saja mereka berbeda dengan "anak kota", setidaknya penampilan yang kusam. Dan hal dasar yang tak bisa disembunyikan adalah bahasa ucap mereka. Ya, bahasa Melayu yang kental. Meskipun bahasa mereka telah menyerap kosa kata dari berbagai bangsa (bukan suku-bangsa!) seperti Bali, Jawa, Madura dan seterusnya, tetap saja mereka melafalkan vokal "a" sebagai "e", pada setiap akhir kata.
Inikah yang membuatku terobsesi pada kota itu, dan ingin menjadi gadis lain? Aida bertanya pada dirinya, dan mulai menyusuri kenangannya sendiri….
***
DALAM komunitas kampungnya yang "udik", Aida tumbuh sebagai gadis pemalu, sedikit gagap dan tidak percaya diri. Meski diterima di sekolah unggulan, yang ia rasakan lebih banyak siksaan.
Ia kerap iri melihat kawan-kawannya punya sepeda, atau paling tidak lancar-lancar saja naik angkutan kota. Sedang ia, jangankan punya sepeda, naik angkot pun tak selamanya bisa. Uang dari bapaknya pas untuk satu keperluan, padahal Aida membutuhkan sedikitnya dua keperluan setiap hari: ongkos angkot dan jajan. Maka, kalau ia mau jajan, ia mesti berjalan kaki, atau sebaliknya. Kerap pula ia tak bisa memilih karena tak setiap hari bapaknya punya uang. Seringlah ia berjalan kaki, lewat jalan pintas menempuh pematang sawah, masuk gang-gang sepi, dan tak jarang ia dikejar anjing atau diganggu orang, apalah bedanya.
Ia kemudian belajar mencari uang sendiri dengan membungkus kerupuk di sebuah usaha kecil tetangga, yang jika ia kenang sekarang sungguh keterlaluan. Bayangkan, untuk berbungkus-bungkus kerupuk, bayarannya tak cukup buat jajan. Belum lagi kalau ia ingat saat-saat belajar mengaji, yang menyita banyak waktu dan tenaganya sebab harus mengabdi sepenuhnya kepada sang guru, tak bisa menolak karena bapaknya keras dalam urusan agama. Ini tak kalah menyiksa.
Seharusnya ia bisa lebih percaya diri, kalau saja guru sekolah memperhatikan bakatnya. Aida merasa bisa menulis puisi dan mengarang cerita. Tapi dirinya luput setiap kali ada lomba. Ini menjadi masa sulit bagi Aida. Termasuk ketika ia menyukai teman lelaki, Ida Bagus Suemi. Aida pun percaya, lewat sorot mata dan tingkahnya, anak itu juga menyukainya. Tapi keduanya tak menyatakan apa pun. Satu-satunya komunikasi yang diingat Aida ialah ketika mereka naik angkot yang sama ke sekolah, dan Bagus Suemi membayarkan ongkosnya, tapi Aida menolak. Lalu, ketika mereka mulai melangkah, Bagus Suemi menginjak sepatu Aida, dan tak dinyana remaja itu membungkuk membersihkannya. "Aduh, maaf, ya, saya ndak sengaja," katanya kikuk. Yang lebih kikuk tentu saja Aida, sebab sepatu yang ia kenakan tidak lebih sepatu butut yang mulai robek di sana-sini, yang jika ia kenang kapan saja, niscaya wajahnya akan sama merahnya seperti saat itu!
Kenyataan-kenyataan ini, menghilangkan separoh masa remajanya…..
Tapi aneh! Masa-masa yang hilang itu serasa Aida temukan dalam masa lalu suaminya. Salah satunya, tentang kota lama itu, Bukittinggi, yang digambarkan Kudal sebagai "Kota yang dibangun dari menara sekaligus terowongan bawah tanah," lantaran di sana kisah-kasihnya dengan seorang gadis bermula, meski bertahun-tahun kemudian, di sana juga mereka berpisah! Rosalina, Rosalina Parete, gadis bahagia sekaligus malang itulah, yang terus membayangi Aida…
Entah kenapa Aida sangat tertarik pada kisah kasih sederhana itu, barangkali ia membayangkan dirinya sendiri terlibat di dalamnya. Sering Aida menanyakan mengapa Kudal meninggalkan gadis itu, namun Kudal tak pernah sungguh-sungguh menjawab. "Bukan aku yang meninggalkannya, dialah yang meninggalkan aku," katanya. Padahal Aida tahu, tak lama setelah Kudal sampai di Bali, surat si gadis datang tak putus. Aidalah yang mengumpulkan dan menyimpan surat-surat itu. Hanya beberapa saja dibalas Kudal, tentu dengan menyebut nama Aida sebagai perempuan yang telah mengisi hidupnya. Aneh, Aida malah balik sedih kepada gadis itu.
Tapi, tiap kali Aida bertanya kenapa Kudal tega meninggalkan si gadis, Kudal malah menceritakan yang lain, yang konyol. "Sore itu kami berdiri di atas tebing Ngarai Sianok, dengan tangan tak lagi saling genggam karena semua sudah kami tuntaskan. Kemudian aku berjalan ke semak-semak, lebih dekat lagi ke jurang, dan secepat itu pula ia mengejarku, nyaris berteriak minta tolong. Tentu saja ia takut menyaksikan aku bunuh diri, meloncati tebing dan remuk di dasar jurang. Tapi siapa yang mau bunuh diri? Wong, aku hanya mau kencing kok!" Ia lalu akan tertawa, membuat Aida kian penasaran saja, dengan suatu bisikan halus dalam hati, "Huh, mentang-mentang punya banyak masa lalu untuk dikenang, lalu dibuang-buang.…"
Lantas, pikirnya, "Tapi perlukah aku memungutnya?"
***
AIDA meluruskan kaki, menekan debar, dan bertanya sendiri, letih: Apa iya masa lalu seseorang bisa dimasuki seorang lain, sekalipun itu orang yang dicintai?
Dengan latar budaya hibrida dan kreol, yang terbiasa merangkai segala yang silam, mungkin saja Aida bisa. Tapi….untuk apa?…perlukah? Tidak, tidak, aku harus merumuskan masa laluku sendiri! Cukup bagiku meminang lelakiku, tak perlu masa lalunya!
Ajaib, begitu memasuki kampung suaminya, yang tenang dan sunyi, Aida merasakan sesuatu memapah dirinya pada kesadaran murni. Ia mendengar suara ombak berdesir di pantai. Ia melihat cakrawala. Melihat matahari. Dengan desir yang aneh, semua ini mengingatkannya pada silsilah, garis darah, bahasa, peta-peta, dan sejarah leluhurnya di sebuah kampung tua yang menyimpan masa lalunya. Sempurna atau retak, itulah milikku! Bisiknya, seperti luluh.
Minibus jalan perlahan, bagai kapal hendak menepi. "Kalau pun besok atau lusa aku ke kota lama, mungkin bukan untuk mengingat siapa-siapa," ia berbisik di dalam hati, lalu membangunkan anak dan suaminya. Sebab mereka telah sampai.
/Yogyakarta, Bulan Bahasa, Oktober 2005

 
back to top